Selamat Datang di Portal Sekolah Islam Terpadu GAMEEL AKHLAQ

Masalah Pendidikan Tiada Habisnya

JAKARTA, KOMPAS.com - Apa catatan Anda untuk kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sepanjang tahun 2011 ini? Kritik dan masukan boleh saja dilayangkan terhadap kinerja kementerian di bawah kendali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh ini. Tetapi, yang jelas, Kemdikbud juga sudah punya catatan tersendiri atas apa yang telah dicapai dan masih menjadi pekerjaan rumah pada tahun 2012 mendatang. Dalam wawancara dengan Kompas.com, Senin (19/12/2011), di ruang kerjanya, Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nuh mengungkapkan sejumlah hal yang menonjol dan menjadi konsen kementeriannya sepanjang setahun ini.
Tidak akan ada yang selesai. Masalah pendidikan akan terus ada. Muter terus. Urusan guru juga tidak akan selesai pada 2012, dan seterusnya. Jangan berpikir itu akan selesai
-- M Nuh
Satu hal yang ditekankannya, jangan pernah berharap persoalan pendidikan akan selesai. Maka, menapaki tahun depan, persoalan masih akan terus mengiringi perjalanan pendidikan di Tanah Air.

"Tidak akan ada yang selesai. Masalah pendidikan akan terus ada. Muter terus. Urusan guru juga tidak akan selesai pada 2012, dan seterusnya. Jangan berpikir itu akan selesai," kata Nuh.

Lalu, apa saja capaian dan rintisan Kemdikbud tahun ini?

Hal-hal menonjol sepanjang 2011

Nuh memaparkan, sepanjang tahun 2011 ada sejumlah hal menonjol dan menjadi perhatian publik di dunia pendidikan. Setidaknya, ia menyebutkan empat persoalan yang turut menjadi perhatian dan konsen kerja kementeriannya.

Pertama, ujian nasional dan dugaan contek massal. Kasus yang menonjol terjadi di SD Gadel, Jawa Timur.

Kasus yang bermula dari kesaksian seorang ibu, Siami, yang mengungkapkan bahwa anaknya diinstruksikan gurunya untuk berbagi jawaban soal UN kepada teman-temannya menggemparkan dunia pendidikan. Nilai kejujuran yang ditanamkan oleh institusi pendidikan menjadi tanda tanya besar. Menurut Nuh, kasus ini membawa dampak sosial yang cukup besar. Saat itu, dukungan mengalir kepada Ibu Siami. Di satu sisi, ada orangtua siswa yang tak terima anaknya turut disebut melakukan kecurangan secara massal.

"Ada beberapa langkah yang kita lakukan dalam menangani kasus contek massal itu. Pertama, harus kita dudukkan, karena prinsip kita bukan membantah atau membenarkan. Tetapi kasus ini kan harus kita jelaskan dimana letak permasalahannya. Itu rumus yang kita (Kemdikbud) pegang selama ini.Jadi kalo disitu ada contek massal, tahu atau tidaknya contek massal itu ya ada standar bagaimana pekerjaan itu memenuhi kriteria ada contek massal," papar Nuh.

Ia mengatakan, hal terpenting dari penyelesaian persoalan ini adalah tidak memicu dampak sosial yang lebih besar.

"Ibarat kanker yg sudah diambil, persoalannya adalah ketidakjujuran. Siapa yang tidak jujur? Yaitu kepala sekolah, dan itu sudah diambil tindakan oleh si walikota, berarti kan kanker sudah diambil. Tetapi, jangan sampai masih ada luka lain. Sebab,  akan masuk bakteri lain, dan akibatnya justru tambah sakit. Intinya jangan sampai persoalan akademik merembet ke persoalan sosial," ujarnya.

Kedua, penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS). Pada tahun 2011 ini, pemerintah menerapkan mekanisme yang berbeda dari tahun 2010. Penyaluran dana yang sebelumnya dari provinsi ke sekolah, kemudian diubah disalurkan dari kabupaten ke sekolah. Akan tetapi, mekanisme ini justru memicu persoalan baru yaitu keterlambatan penyaluran dana.

Solusinya, pada tahun 2012 mendatang, mekanisme kembali diubah seperti yang diterapkan pada tahun 2010. Selain itu, dana unit cost juga dinaikkan. Untuk siswa SD dari Rp 380 ribu menjadi Rp 510 ribu. Sementara itu, untuk SMP, dari Rp 580 ribu menjadi Rp 710 ribu.

Hal menonjol ketiga, yaitu masalah fasilitas pendidikan khususnya sekolah rusak.

"Urusan skeolah rusak, yang tidak layak, meminta perhatian yang tak kalah menarik juga. Data yang kami miliki ada ribuan sekolah rusak, bahkan ratusan ribu ruang kelas yang rusak," ujar Nuh.

Untuk menentukan skala prioritas, kementerian melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang dianggap perlu mendapatkan prioritas utama. Salah satunya adalah NTT. Menurut Nuh, pendidikan di NTT tertinggal 17 tahun ke belakang jika ditilik dari sisi angka partisipasi khusus (APK).

"Oleh karena itu, kita selesaikan secara tersendiri. Solusi untuk sekolah rusak ini, sudah dimulai tahun 2011 dan akan dilanjutkan tahun 2012" kata Nuh. 

Hal keempat, lanjut Nuh, mengenai penuntasan wajib belajar 9 tahun. Ia mengungkapkan, dari data demografi, populasi usia produktif akan mencapai puncaknya pada tahun 2010-2040. 

"Dengan membaca peta seperti ini, maka kita siapkan generasi 2045, generasi 100 tahun Indonesia merdeka. oleh karena itu, mulai tahun ini kita galakkan gerakan PAUD-isasi. Karena pada 2045, mereka yang akan menggantikan posisi kita. Inilah yang kita garap, menyiapkan generasi 2045. Kesempatan emas ini kuncinya adalah pendidikan," papar Nuh.

Proyeksi 2012

Meski persoalan pendidikan tak akan pernah selesai, bukan berarti tanpa harapan. Pada tahun 2012 mendatang, Kemdikbud akan memproyeksikan sejumlah kerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya pemerataan kesempatan pendidikan. Sejumlah politeknik dan institut teknologi akan dibangun di berbagai daerah, agar pembangunan tak hanya tersentralisasi di Pulau Jawa.

"Pokoknya kita perbanyak PTN (perguruan tinggi negeri), sehingga tidak menumpuk di Jawa. Selama ini hanya terkonsentrasi di Jawa, maka ke depan harus kita distribusikan," kata Nuh.

Selain itu, beasiswa Bidik Misi yang diperuntukkan bagi mahasiswa miskin juga masih menjadi andalan. Hingga saat ini, setidaknya program ini telah menjaring 50 ribu mahasiswa miskin mendapatkan bantuan biaya pendidikan. Ke depannya, ditargetkan, Bidik Misi bisa membantu tak kurang dari 80 ribu mahasiswa.

Edukasi Kompas
Share this post :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Sekolah Islam Terpadu Gameel Akhlaq - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by IT GAMAIS