Minggu, 20 September 2015

Tuhan, Aku Ingin Berubah!

ODOJ sudah kudengar dan sering ku baca dari media online. Saat itu, mata ini tak pernah tertarik sedikitpun untuk mencari tahu bahkan memaca fanpage atau kisah-kisah yang menceritakan kenikmatan berODOJ melalui facebook.
Mata ini lebih tertarik stalking status teman-teman dan kawan-kawan bahkan sampai doi yang sedang diincar. Astagfirullah. . . saat mengenal kata ODOJ, sempat aneh dan acuh. Aku mengenal kata ODOJ pertama kali dari status seorang ikhwan yang aku kenal di kampus. Dia adalah ketua umum LDK angkatan 2012-2013. Itupun hanya sekilas tahu bahwa ODOJ itu merupakan suatu wadah atau komunitas yang mewajibkan anggotanya membaca Al Qur’an 1juz dalam satu hari. Tak ada curiosity dalam benakku untuk menyelami ODOJ lebih dalam.
Saat itu, jilbab dan pakaian memang mulai syar’i. berawal karena keterpaksaan mengenakan jilbab dan pakaian syar’i dan akhirnya menjadi jati diri. Walau tak jarang, diri bagaikan kapal yang berlayar dilautan samudra tanpa tahu pelabuhan mana yang akan kutuju. Tak jarang pula, berkali-kali berniat mengikuti trend anak muda. Namun, lagi dan lagi Allah menyayangiku, menuntunku dan slalu menerima ku lagi dan lagi dalam setiap perjalanan hidupku. Pencarian jati diri kujalani bukan hanya saat masa SMP atau SMA, tapi aku selalu menjalaninya sampai kuliah. Berubah-ubah style berpakaian dari mulai tomboy dan pakaian yang ngetatpun pernah kulalui. Bahkan, sampai semester 3, aku masih berani menampakkan rambut kepada teman lelaki. Bagiku, saat itu, berboncengan dengan lelaki merupakan kewajaran dan bahkan kuwajarkan diri untuk berpacran.
Suatu hari, aku bertemu dengan orang-orang yang hebat dalam memegang teguh panji islam dan tentunya mereka berpakaian syar’i. Mereka adalah inspirator dalam perubahan besar hidupku. Bagaimana tidak, mereka telah membuat diriku yang tomboy dan tak malu bermaksiat menjadi taubat untuk memakai pakaian syar’I dan mengambil keputusan untuk tidak berpacaran. Yak, mereka adalah sahabat-sahabat hebat yang Allah kirimkan. Sahabat LDK Al-Ukhuwah, kak Ayie yang anggun nan penyabar lulusan UGM fakultas Hukum, Mutiara Dara yang cantik jelita dan teman bersepeda saat di Pare yang berkuliah di Fakultas kedokteran UNPAR, dek Athiyallah yang sekarang melanjutkan study di negeri Jiran, Miss Iis yang tak lelah membangunkan kami (Penghuni LOGICO) pada saat shalat shubuh yang sedang menyelesaikan program Magisternya di UGM, dan semua sahabat yang pernah kutemui yang tak bisa kusebutkan namanya. Terima kasih telah memberiku warna dalam hidup, sehingga pelangiku utuh dan indah.
Apakah diriku langsung menjadi muslimah sejati setelah semester 3 saat memutuskan berhijab syar’i dan tidak berpacaran? Nyatanya perjalanan hidupku dan pencarian diriku tidak berhenti sampai disitu. Pakaian syar’iku belum bisa membuatku malu untuk bermaksiat dan merubahku menjadi taqwa. Oh mengapa? Bayangkan saja, diriku belum menyanggupi tilawah 1 helai setiap harinya, masih berboncengan dengan lawan jenis, masih sering SMSan dan chatting hingga larut malam bersama lawan jenis dan belum bisa meredam emosi saat marah. Ironis bukan? Sosok yang telah memakai jilbab syar’i masih melakukan kegiatan yang tak mencerminkan hati yang suci. Tapi, aku bersyukur pada Illahi karena telah memberiku pelajaran yang teramat berharga dalam catatan sejarah hidupku.   
Suatu hari, ketika diriku baru memulai kembali perjalanan liqo ku dengan murobi baruku. Ya baru beberapa bulan saja mengikuti liqo bersama Umi Diana, beliau tiba-tiba mengajakku untuk bergabung bersama Group ODOJ. Beliau hanya berkata, “Carryla, ada whatsapp ya? Gabung di ODOJ yuk!” tegasnya. Diriku hanya tersenyum dan mesem-mesem dan entah mengapa hati memerintahkan otak untuk menjawab ia. Bukan karena aku rajin tilawah atau sudah bertilawah 1 juz perhari, tapi mungkin ada rasa segan karena murobi ku langsung yang mengajakku. Tak pernah terbayang, bagaimana aku melalui hari demi hari dengan menyelesaikan 1 juz perhari sedangkan diriku sendiri tak terbiasa dengan tilawah 1 helaipun. Namun, hatiku berkata “cobalah, cobalah! Life is process. Do it now!, I can”. Dengan keyakinan yang kuat walau sejujurnya tilawah 1 helaipun dalam sehari aku tak pernah kecuali bulan ramadhan. Itupun karena sejak SD guru ngajiku di pesantren selalu mengiming-imingi kami santrinya dengan bayaran uang bagi siapa yang bisa menamatkan 1 Al Qur’an selama bulan ramadhan. Karena terbiasa mengkhatamkan Al Qur’an hanya dibulan ramadhan saja, kebiasaan itupun terbawa sampai besar dan kuliah. Aku hanya tilawah saat bulan ramadhan tiba atau malam jum’at.
Pada akhir November dan kira-kira awal desember 2013, aku resmi bergabung dengan ODOJ group 112 dengan admin Mba Dian yang berdomisili di Bandung. Entah mengapa, adrenalinku untuk tilawah meningkat drastis. Tadinya, aku tak terbiasa mengaji 1 ayatpun setiap harinya. Setelah berODOJ, aku menjadi ketagihan untuk bertilawah satu juz dalam sehari. Alhamdulillah. Kuundang para sahabat yang memiliki whatsapp untuk bergabung dengan ODOJ, dengan gaya retorika yang telah kudapat selama kurang lebih 7 tahun saat berorganisasi. Banyak para sahabat yang kudaftarkan melalui Mba Dian, sehingga akhirnya Mba Dian menawarkanku untuk menjadi admin ODOJ.
Tawaran itu pun aku terima dengan senang hati, walaupun aku sadar bahwa diriku ini masih harus banyak belajar dan jauh dari sempurna. Tapi hatiku selalu meyakini bahwa hidup ini harus berproses, berubah menuju tingkatan yang lebih baik dan terus berubah meneguhkan keimanan menetapkan langkah menuju Illahi. Hanya itu yang kuyakini. Group 632 yang pertama kupegang, yang pada saat awal berdiri didominasi oleh member yang berdomisili di daerah Serang. Hari demi hari kujalani dengan berODOJ dan menjadi admin. Banyak perubahan dan kemudahan yang kudapat saat menjalankan aktifitas berODOJ. Semua itu kunikmati dan kulalui dengan senang hati.
Beberapa bulan kemudian, aku membuka group baru di BBM. Alasan mendasar pada saat itu adalah “Allah has given me many things in my life” termasuk BB baru, yang harus kusyukuri dengan memaksimalkan fungsinya. Group 1058 yang kupegang kedua di grup BBM. Banyak kendala yang kulalui saat berODOJ. Seperti, keluarga besar ayah yang berdomisili di Cikarang yang mayoritasnya Non-Muslim mencemoohku karena aku terlalu sering mantengin 2 HP, dan mengurangi interaksi dengan ponakan yang ingin bermain denganku. Nasihat dan anggapan buruk tentang main HP gak karuanpun kudapatkan. Namun kusabar menjalani, dan tetap mencoba menjelaskan. Masalah terbesar yang pernah kualami adalah HP BBku rusak dan harus diganti IC Powernya dengan biaya yang cukup fantastic. Namun semua kusyukuri saja, hingga akhirnya group 1058 dipindahkan ke Whatsapp.
Menajdi admin merupakan tantangan terbesar dalam hidupku yang pernah kudapatkan. Adrenalinnya berbeda dengan aku menjadi ketua sebuah organisasi dulu saat SMP atau SMA. Mengapa demikian? Bayangkan saja, aku harus menyemangati dan mengontrol 60 orang. Tak mungkin aku memberikan semangat dengan stamina mengendor dan tak memberikan contoh. Member silih berganti dan keluar masuk terkadang membuatku sering berniat untuk mengundurkan diri menjadi admin. Hal ini dikarenakan aku merasa tak pantas dan bukan sosok admin yang islami banget. Namun, lagi-lagi Allah menuntun langkahku. Aku mengurungkan niatku karena ku tahu, inilah satu-satunya jalan yang bisa kulalui untuk berada di jalan dakwah yang Allah cintai. Ku berharap, dengan ini semua ku bisa menjadi insane dan muslimah yang lebih baik.
Semua yang kulalui ini merupakan hadiah terindah yang Allah berikan. Hadiah dari sang Maha Penguasa yang tak pernah lelah menuntun jalanku hingga sejauh ini. Pelabuhan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya, tepian ternyaman yang pernah kutemui, dengan jalan tarbiyah yang terus menuntunku menapaki kehidupan dan memperdalam ajaran Allah dengan murobi yang sangat memahami karakterku. Umi Diana, jazakumullah for everything You’ve given to me, semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih baik.
Aku tak pernah menyesal telah bergabung dengan ODOJ, tak pernah menyesal telah menghabiskan banyak waktu untuk menjadi admin. Setelah bergabung di ODOJ, aku menjadi muslimah yang jauh lebih tenang dalam menghadapi masalah kehidupan, banyak mengucap syukur, banyak teman dari berbagai daerah, lebih damai dan legowo menerima semua cobaan. Lebih bisa memahami masalah dari semua sudut pandang dan setelah berODOJ kenikmatan beribadah aku dapatkan dengan cara yang tak pernah aku pikirkan. Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah yang telah terus menuntun langkahku ke jalan yang lebih terang.
Tuhan, Aku ingin terus berubah. Perubahan yang membuat diriku lebih bermanfaat, lebih baik, lebih ikhsan dan istiqomah dalam menjalankan ajaran agama Mu. Tuhan, aku ingin berubah. Aku hanya manusia yang mudah berubah lagi dalam sekejap. Tuhan, aku ingin berubah dan ku bertahan dalam perubahanku. Perubahan yang terus membawa langkahku menuju Jannah Mu, perubahan yang mempertemukanku dengan imam pilihan Mu, perubahan yang membawaku bertemu dengan Mu di Jannah Mu. Bimbinglah aku dan seluruh ODOJers untuk tetap istiqomah dan meneguhkan harapan di hati. Karena harapan tak akan pernah mati di hati dan terus menyala terang selama manusia bernyawa. Maka, teguhkanlah harapanku dan semua kaum muslimin untuk mengarungi lautan kehidupan menuju pelabuhan Jannah Mu dengan ketaatan dan kebaikan. Aamiin. (terinspirasi dari lagu berubah-edcoustic).


“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya”
Q.s Al-Baqarah: 286”.

Tags :

SIT GAMEEL AKHLAQ

GAMEEL AKHLAQ ISLAMIC SCHOOL

  • " Cerdas " ( Selalu berprestasi )
  • " Berkarakter " ( Akhlaq yang baik )
  • " Qur'ani " (Cinta Qur'an )

  • : SIT Gameel Akhlaq
  • : Juli 2011
  • : Rawalumbu-Kota Bekasi
  • : [email protected]
  • : +6285817664135