Selamat Datang di Portal Sekolah Islam Terpadu GAMEEL AKHLAQ

Seni Mendidik Usia Remaja

Bila anda guru SMP atau SMA, pasti anda setuju bila saya mengatakan mendidik remaja menuntut kesabaran mental tersendiri. Bila kita tidak mengerti dan berempati betul terhadap perkembangan dan tantangan remaja secara psikologis, yang ada  malah “makan hati” saat mengajari mereka. 
Bila saat masih anak-anak mereka cenderung menurut dan mudah percaya dengan perkataan gurunya, saat menginjak usia remaja mereka mulai memiliki pendapat dan pemikirannya sendiri sehingga kadang guru mengartikannya sebagai perilaku membangkang atau tidak sopan.
Saya pernah menegur salah seorang siswa karena tidak berada di kelasnya saat waktu belajar. Dengan gaya menantang dia menjawab enteng “Malas Pak…”. Perilakunya sangat tidak sopan, secara terang-terangan dia menunjukkan sikapnya yang tidak mau menuruti peraturan.
Walaupun sempat kesal, saya berusaha untuk tidak menunjukkannya. Saya minta dia kembali ke kelas. Setelah selesai sholat dzuhur berjamaah, saya menyapanya kembali. Saya awali dengan obrolan ringan yang dilanjuti dengan menanyakan sikapnya tadi pagi. 
Dari obrolan kami, saya dapat memahami bahwa siswa tersebut sedang dilanda masalah keluarga yang cukup berat. Kedua orang tuanya bercerai, sehingga ia terjepit ditengah-tengah perseteruan keduanya. 
Anda dapat bayangkan apa yang terjadi bila saya langsung memarahinya saat itu juga. Buat dia saya hanya akan menjadi bagian dari rangkaian ketidakbahagiaan dalam hidupnya, tidak lebih. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Setelah ia selesai mengeluarkan semua uneg-unegnya, saya mulai memotivasinya, membangun mental dan ruhiyahnya agar dapat melewati permasalahan tersebut dengan lebih positif. Sejak saat itu, ia terlihat lebih bersemangat belajar terutama di kelas saya, sehingga nilainya juga meningkat.
Tanpa dibarengi persoalan kasuistik seperti remaja yang saya ceritakan di atas, secara psikologis, masa pubertas sendiri juga merupakan proses yang tidak mudah bagi remaja. Kita sendiri juga pasti masih ingat masa-masa galau saat masih remaja :-)
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menjadi orang dewasa. Selain perubahan hormonal yang memberi efek lonjakan emosional yang tidak stabil, tuntutan tugas-tugas remaja juga menjadi  sesuatu yang sangat membingungkan bila tidak dikomunikasikan dengan baik oleh orang-orang dewasa yang berpengaruh dalam kehidupannya.
Bayangkan, saat mereka menginjak usia remaja, tubuh mereka, keluarga, sekolah, dan masyarakat menuntut  perubahan pada diri dan peran mereka. Mereka dianggap bukan anak-anak lagi, namun di sisi lain terkadang orang dewasa juga tidak mempercayai bahkan meremehkan mereka seolah-olah mereka belum cukup mumpuni. 
Terkadang mereka merasa tidak terpahami dengan baik sehingga seringkali mereka menunjukkannya dengan sikap yang diartikan orang dewasa sebagai sikap pemberontak, pembohong, bermasalah di sekolah, tidak patuh, tidak hormat, atau untuk kasus yang lebih ekstrim adalah masalah obat-obatan dan alkohol, pergaulan bebas, depresi, dan isu seksualitas.
Abi Umamah, dalam hadits riwayat Ahmad, mengisahkan suatu ketika Rasulullah SAW didatangi oleh seorang pemuda. Si pemuda dengan lantang berkata kepada Rasulullah SAW, “Izinkan aku berzina..”. Sontak para sahabat yang mendengarnya terbelalak dan kaget dengan perilaku tidak sopan itu. Rasulullah menyikapinya dengan tenang, ia meminta pemuda tadi untuk duduk di sampingnya dan kembali menanyakan apa yang diinginkannya. 
“Aku ingin berzina..” jawab pemuda itu kembali. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kau rela bila ibumu dizinai laki-laki lain, kakak perempuanmu dizinai laki-laki lain, adik perempuanmu dizinai laki-laki lain, saudara perempuanmu dizinai laki-laki lain?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, aku tidak rela. Rasulullah berkata, “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan dari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah menyentuh dada pemuda itu dan mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya..!”
Si pemuda tadi keluar dari masjid seraya bergumam, “Tidak ada orang yang saya cintai selain Rasulullah SAW…”. Setelah peristiwa tersebut, pemuda tadi menjadi orang yang arif.
Apa yang dapat kita pelajari dari pendekatan Rasulullah SAW ini adalah beliau tidak langsung menghakimi bahwa perilaku pemuda tadi sebagai perilaku kurang ajar. Sebaliknya beliau tetap menghormatinya, mengajaknya untuk duduk disampingnya dan berdialog dengan lemah lembut. Pertanyaan yang disampaikan kepada pemuda tersebut adalah pertanyaan dengan maksud untuk memancing nalar dan jiwa empati si pemuda untuk tidak sekedar memikirkan hasratnya semata, namun juga mengajaknya untuk turut memikirkan efek dari perbuatannya dan perbuatan laki-laki lain bila menzinai salah seorang anggota keluarganya. 
Terakhir Rasulullah SAW menyentuh dada pemuda itu dan mendoakannya dengan tulus. Sentuhan dan doa adalah ungkapan kasih sayang terbaik. Kadang sebagai guru atau orang tua kita menuntut remaja untuk menghormati kita, namun kita mengkomunikasikannya dengan perkataan yang keras, berkacak pinggang, mata melotot, muka cemberut, tangan menuding, memanggil dengan nama yang tidak disukai, memberinya label pemalas, bodoh, tidak penurut dan lain-lain.   
Remaja sangat peka terhadap sikap orang dewasa di sekelilingnya. Remaja mengetahui siapa orang dewasa yang benar–benar perduli terhadap dirinya atau yang hanya sebatas di permukaan saja. Remaja juga dapat menilai siapa saja orang dewasa yang menyapanya, menghargainya, memujinya, berinteraksi kepadanya dengan penuh ketulusan. 
Pendidik harus memahami hal ini, sehingga dapat menyikapi remaja dengan penuh ketulusan.  Guru yang menyikapi anak didiknya dengan respek akan mendapatkan respek yang baik pula dari mereka. Bila hubungan batin sudah terjalin, tidak sulit bagi guru untuk didengar dan diterima didikan dan bimbingannya sehingga dengan mudah mengarahkan mereka untuk memahami tugas-tugas dan perannya sebagai remaja. ( Yulianti FW )
Share this post :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Sekolah Islam Terpadu Gameel Akhlaq - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by IT GAMAIS